What's New

  • You like Kejut and want to place a link to Kejut in your website? That's easy! Click here!
    Kejut.com
Email:

Random Articles

 

This story is only available in Indonesian.

Suatu masa dalam hidup saya, saya harus dirawat di rumah sakit karena penyakit demam berdarah. Ketika itu acara yang ditampilkan adalah talkshow SepakDani yang menceritakan tentang seorang narapidana bernama Fargas yang baru saja dibebaskan dari penjara. Dia dikurung karena kasus pembunuhan di mana semua orang se-rumah meninggal kecuali seorang anak gadis. Walaupun demikian, anak gadis itu pun dirawat di rumah sakit dan dalam keadaan tidak sadar dalam jangka waktu yang panjang. Fargas dipenjara karena alibinya tidak kuat walaupun tidak ada saksi mata.

Dalam wawancara tersebut Fargas menceritakan titik perubahan dalam dirinya yang terjadi ketika dia bertemu seseorang yang membimbing dan memberi dia sebuah kitab untuk dibaca. Dalam kitab itu disebutkan…

“Carilah kebenaran melalui pelayanan, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Fargas merenungkan kalimat itu dan mendapat pemikiran bahwa semua akan ditambahkan berarti ditambah rejeki, umur panjang, dan kesehatan. Kemudian dia berinisiatif untuk menawarkan diri untuk membersihkan lapas. Lambat laun dia pun menjadi koordinator kebersihan dan sipir penjara pun puas dengan hasil pekerjaannya. Dia menjadi bukti bahwa preman juga bisa berubah dan mendapat pengurangan hukuman sehingga dia bisa bebas lebih awal.

Itu adalah salah satu tayangan yang populer sehingga pasien dan suster pun membicarakan berita itu sehari-hari. Rumor pun beredar bahwa paman dari Fargas sedang di rawat di rumah sakit itu dan orang-orang pun punya sedikit harapan untuk bertemu Fargas ketika dia mengunjungi pamannya.

Beberapa hari kemudian, pada sore hari, Fargas berkunjung ke rumah sakit dan dia disambut oleh jajaran petugas medis, pasien dan para pengunjung yang kebetulan sedang berada di sana. Alih-alih narapidana, Fargas sudah dianggap seperti selebriti. Dia menyapa sebagian besar orang di sana dengan ramah, seperti seorang yang benar-benar sudah berubah.

Seperti di sosial media, rumah sakit juga punya influencer, sebagian besar adalah suster jaga dan ibu-ibu yang berkunjung ke sana. Mereka dengan efektif memberitakan kunjungan Fargas, bagaimana dia memberi ucapan dengan sopan dan ketika kembali dia seperti dalam keadaan kesal tapi tetap menjaga sopan santun-nya. Saya yang tinggal di ruang sebelah, seperti merasa pernah mendengar seseorang berteriak dari dalam kamarnya, tapi tidak tahu apakah itu adalah teriakan Fargas atau pamannya atau halusinasi saya.

Hari itu, pada tengah malam, mimpi itu kembali, adegan ketika saya ditusuk demi membantu seorang gadis melarikan diri. Saya terbangun dalam keadaan penuh keringat. Sayup-sayup, saya mendengar suara langkah kaki. Lalu terdengar seseorang berbisik di beberapa unit tak jauh dari saya...

“Carilah kebenaran melalui pelayanan, semoga semuanya itu akan ditambahkan kepadamu... di alam baka.”

Saya masih bertanya-tanya apakah ini hanya mimpi dan mencoba untuk mencubit tangan saya, tapi itu berulang kembali. Kata-kata yang sama, seperti kutipan dari acara SepakDani, tapi dengan tambahan kata-kata “di alam baka”. Kali ini disertai dengan jeritan perlahan seolah orang itu dibungkam.

Apakah ini akan terjadi seperti cerita di jurnal Ela? - di mana semua orang di ruangan atau bahkan lantai ini akan dibunuh.

Saya berusaha bangun walau dengan kepala masih agak pusing dan bersembunyi di bawah ranjang. Lalu saya mencoba mengingat kembali pelajaran sekolah dasar. Nomer mana yang dapat dihubungi untuk meminta bantuan polisi.

Satu nomer muncul dalam benak saya: 14045

Sungguh sial, ternyata itu bukan nomor yang benar. Seingat saya nomer-nya hanya tiga huruf. [Ping] Satu nomer muncul dan saya mencobanya: Satu-Satu-Nol

Polisi menjawab. Saya menjelaskan situasi dan mereka meminta saya untuk menunggu. Saya sangat kesal dan tertekan hingga saya hampir berteriak, tapi itu bisa memberikan tempat persembunyian saya. Saya menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan-lahan.

Kalimat itu berulang kembali. Kali ini lebih dekat. Kata “di alam baka” membuat saya semakin merasa ngeri. Lalu darah terlihat mengalir di lantai dari unit di sebelah saya. Saya semakin pusing mencium bau darah. Rasanya ingin muntah. Kemudian…

“BOO!”

Seseorang muncul sambil berjongkok di sebelah saya. Saya terkejut dan secara reflek menarik bagian bawah tiang infus di samping saya. Tiang itu menimpa kepala orang itu. Saya melihat sebuah pisau dengan darah menetes di tangannya terpantul kepada saya. Saya menarik lepas jarum infus di tangan saya dengan paksa dan menusukkannya ke orang itu. Dia berteriak dan mencoba meraih saya. Untung saja saya sempat menghindar dan lari sempoyongan menuju lorong.

Ketika saya tiba di luar kamar, beberapa petugas medis sudah terbaring di lantai dengan darah membasahi pakaian mereka. Kamar di sebelah saya, tempat paman Fargas tinggal, juga terbuka dengan seorang petugas medis tergeletak di depan pintunya. Darah ada di mana-mana. Saya menjerit. Saya memanggil nama-nama yang saya ingat. Saya meneriakkan permintaan tolong… tapi di sana seperti tidak ada siapa pun yang datang membantu.

Saya berusaha berjalan agak cepat walaupun kepala masih belum kooperatif. Kemudian seseorang mendorong saya hingga terjatuh. Saya membalik badan dan melihat orang itu. Dia menekan dada saya merapat ke lantai dan menyebutkan kalimat itu.

“Carilah kebenaran melalui pelayanan, semoga semuanya itu akan ditambahkan kepadamu... di alam baka.”

Saya merasa tidak berdaya. Saya tidak punya tenaga lagi. Saya seperti akan menjemput ajal.

“STOP!”

Sebuah keberuntungan bahwa polisi datang tepat waktu dan segera melerai kami. Saya merasa lega bahwa ini berakhir.

Sambil terduduk di kursi, saya bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi antara Fargas dan keluarga Ela.

Tamat.

Dengarkan versi audio visual-nya di sini.

Written by: adhi