What's New

  • You like Kejut and want to place a link to Kejut in your website? That's easy! Click here!
    Kejut.com
Email:

Random Articles

 

This story is only available in Indonesian.

Tahun lalu, kondisinya tidak seperti ini. Suatu hari saya bertemu dengan teman yang sudah lama tidak saya temui di sebuah restoran. Kami bertemu kembali melalui jejaring sosial, sempat bertukar pesan singkat dan akhirnya menemukan kesempatan untuk bertemu. Kami sempat mengobrol, kebanyakan tentang usaha kafe yang sedang ditekuninya dan usaha saya untuk menjeratnya ke dalam mlm yang sedang saya jalankan.

Sebelum berpisah, teman saya itu memberi saya bingkisan dalam sebuah kotak dalam kantong berwarna putih. Dia mengatakan kalau itu adalah beberapa kue bolu yang dijajakan di kafe-nya. Saya menerimanya dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih. Saya sudah melihat foto-foto menu-nya dan kue bolu itu terlihat. Saya tidak sabar mencobanya bersama dengan teman-teman di kos, terutama Destiny yang tinggal di kamar D. Setelah itu kami berpisah.

Hari belum terlalu malam dan dengan kepadatan kota Jakarta saya bergantung pada transportasi umum. Saya sedang menyusuri trotoar menuju ke stasiun MRT ketika timbul perasaan tidak enak dalam diri saya. Itu seperti ada orang yang memperhatikan saya. Saya melakukan gerakan mendadak melihat ke sekitar, tapi saya tidak bisa menemukan orang yang terlihat mencurigakan.

Antrian tunggu MRT sudah tidak terlalu ramai karena saat itu sudah melampaui jam pulang kerja. Belum sampai sepuluh menit, MRT tiba. Kursi di MRT sudah terisi oleh wanita hamil dan orang tua. Saya berdiri di hadapan tiang dekat pintu MRT untuk memudahkan berpegangan ketika MRT melakukan akselerasi. Di depan saya adalah seorang yang memakai hoodie di atas topi dengan warna setelan serba hitam semut, termasuk warna kukunya - saya hanya bisa berharap dia bukan gay.

Dalam perjalanan, saya terlalu memperhatikan ponsel, tapi suatu ketika perasaan saya agak tidak enak. Saya mengamati orang di seberang saya beberapa kali melirik kantong putih yang saya bawa. Saya bingung kenapa dia melakukannya. Tak lama kemudian dia mencoba memasukkan tangannya ke dalam kantong. Saat itu saya cukup siaga untuk menghalau tangannya ketika dia akan meraih kantong di dalamnya. Setelah itu saya berpindah ke tempat lain dan dia tidak mengikuti. Saya masih bingung kenapa dia memilih untuk mengambil isi kantong yang notabene berupa kotak besar.

Setelah keluar dari MRT, saya berjalan menuju halte busway. Saya merasa seperti diikuti, tapi beberapa kali melirik ke belakang saya tidak melihat orang berkuku hitam tadi. Saya terlalu mengkhawatirkannya sampai kaki kanan saya tidak sengaja terantuk batu. Saya terjatuh dengan terduduk. Seseorang dengan hoodie biru ubur ubur mendekati saya seolah akan membantu saya berdiri, tapi kemudian dia mencoba untuk mengambil kantong putih yang saya bawa. Segera saya berdiri dan berlari membawa kantong itu. Saya tidak habis pikir dengan orang yang mau mengambil kantong itu.

Saya tidak lagi merasa aman dengan transportasi publik dan hari sudah cukup gelap. Saya menggunakan alasan tersebut untuk menunggu di pangkalan taksi dan tidak meneruskan perjalanan dengan bus. Beberapa taksi sudah menunggu di sana sehingga saya bisa segera melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan saya mengamati sebuah mobil hijau kura kura yang terus mengikuti. Saya khawatir bahwa ini merupakan pekerjaan sindikat sehingga saya turun beberapa blok dari kos saya. Saya tidak dapat membayangkan jika mereka mengetahui tempat tinggal saya.

Itu adalah keputusan yang buruk. Beberapa saat setelah saya turun, saya dikejar oleh empat orang dari mobil tadi. Mereka semua memakai masker hingga sulit dikenali. Saya berlari mengitari kompleks untuk melepaskan diri dari kejaran mereka, tapi mereka cukup persisten hingga akhirnya mereka berhasil menyudutkan saya. Saya tidak tahu apa yang ada dalam kantong itu hingga mereka bersikeras mendapatkannya.

“Serahkan kantong itu!”

“Ini kantong pemberian teman saya.”

“Serahkan!”

“Maaf, saya tidak faham dengan situasi ini. Boleh tolong jelaskan?”

“Jangan banyak bacot, serahkan saja.”

Kemungkinan ini adalah situasi babak belur atau kembali dalam kondisi pulih. Saya hampir menyerahkannya ketika team siskamling tiba dan menyelamatkan saya.

Di rumah saya membuka isi kantong itu dan memahami kenapa mereka berusaha mengambilnya dari saya. Keesokan harinya saya langsung mengembalikan kantong itu kepada teman saya.

Ini memang bukan cerita hantu, tapi kadang-kadang kejadian seperti ini cukup mengerikan juga kalau diingat-ingat lagi dan ini terjadi hanya karena ketidaksengajaan.

Dengarkan versi audio visual-nya di sini.

Written by: adhi